Tanah Hutan | Asgar Taiyeb, SP, MP

Tanah Hutan

Asgar Taiyeb

Laboratorium Ilmu-Ilmu Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako

Pada mulanya, tanah dipandang sebagai lapisan permukaan bumi (natural body) yang berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam (natural force), sehingga membentuk regolit (lapisan berpartikel halus). Konsep ini dikembangkan oleh para geologis pada akhir abad ke XIX. Pandangan revolusioner mengenai tanah dikembangkan oleh Dokuchaev di Rusia sekitar tahun 1870 (dalam Hanafiah, 2005), berdasarkan hasil pengamatannya terhadap:

  1. perbedaan-perbedaan berbagai jenis tanah dan dijumpainya suatu jenis tanah yang sama jika kondisinya relatif sama.
  2. masing-masing jenis tanah mempunyai morfologi yang khas sebagai konsekuensi keterpaduan pengaruh spesifik dari iklim, jasad hidup (tanaman dan ternak) bahan induk, topografi dan umur tanah.
  3. tanah merupakan hasil evolusi alam yang bersifat dinamis sepanjang masa.ar

Marbut (1996) dalam Ismail (2001) memberikan definisi tanah (soil) sebagai berikut: tanah ialah lapisan luar kerak bumi, biasanya urai (tidak padu). Ketebalannya mulai setebal kulit bawang sampai lebih dari 3 meter, ia berbeda-beda dengan bahan-bahan yang ada di bawahnya yang juga tidak padu, dalam warna, stuktur, sifat fisik, susunan kimia, watak biologis, mungkin juga dalam proses-proses kimia, reaksi dan morfologi.

Dalam definisi ini dibedakan, antara tanah dan bahan induk (parent material), dan menekankan ciri-ciri tanah sebagai sumber benda alam. Hal-hal yang membedakan tanah dari bagian-bagian lain kerak bumi ialah:

  1. Kelompok jenis-jenis tanah hanya terbatas pada kawasan-kawasan iklim tertentu saja di permukaan bumi ini, sedangkan formasi geologisnya tidak demikian.
  2. Tanah biasanya berzona, morfologi tubuh tanah tergantung dari kondisi perkembangannya.
  3. Terdapat hubungan erat antara tanah dan kehidupan nabati dan hewani yang  didukungnya, pengaruh tersebut timbal balik.

Seorang dapat meninjau tanah dari bermacam-macam segi, tergantung dari fungsi yang dipertimbangkan (pedologis dan edapologis). Pengertian secara pdologis (pedo=gumpalan tanah) menitikberatkan tanah sebagai ilmu pengetahuan alam murni dalam hal:

  1. asal mula dan pembentukan tanah yang tercakup dalam kajian genesis tanah.
  2. nama-nama, sistematik, sifat kemampuan dan penyebaran berbagai jenis tanah yang tercakup dalam bidang kajian Klasifikasi dan Pemetaan Tanah

Pemahaman tanah sebagai media pertumbuhan tanaman pertama kali dikemukakan oleh Dr. H. L. Jones dari Cornell University Inggris (Darmawijaya, 1990; Hanafiah, 2005), yang mengkaji hubungan tanah pada tanaman tingkat tinggi untuk mendapatkan produksi pertanian yang seekonomis mungkin. Kajian tanah dari aspek itu disebut edaphologi (edaphos= bahan tanah subur).

Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi, sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term)

Seorang ahli geologi, memandang tanah hanya sebagai jabaran pelapukan batu-batuan. Seorang insinyur tambang menganggap tanah hanya sebagai penghalang (overburden) untuk mendapatkan biji-biji logam, justru karena itu tanah harus dibongkar. Seorang insinyur sipil lebih banyak mencurahkan perhatian kepada watak fisik dan memberikan tekanan kepada daya manfaat, daya dukung dan daya diresapi air. Bagi seorang perisalah, tanah ialah benda alam yang tersusun atas pecahan-pecahan batu dan bahan organis yang terurai, secara berlapis-lapis.

Baik petani maupun rimbawan, tanah  sebagai lapisan yang menutupi permukaan bumi yang mampu menunjang kehidupan nabati, urai, terdiri atas komponen-komponen mineral, zat organis, air dan udara. Bagi profesi rimbawan definisi terakhir lebih sesuai, karena mencakup fungsi tanah terpenting, yakni memberikan kehidupan kepada nabati. Sebab pokok mengapa kita memerlukan tanah, ialah karena kehidupan nabati tak mungkin berlangsung tanpa tanah.

Tanah bersama-sama dengan sinar matahari dan curah hujan menyediakan sandang, pangan dan papan. Di luar perikanan dan kultur air, tak ada sumber lain bagi bahan pangan, sedangkan perikanan dan kultur air, hanya menyediakan sumber kecil dari seluruh pangan. Sandang langsung (misalnya kapas) ataupan tak langsung (misalnya sutera) dihasilkan oleh tanah, sedangkan papan merupakan hasil tanah semata-mata. Kita rimbawan melihat tanah dari segi edapologis.

Faktor edapik atau faktor tanah dapat diartikan pada jenis tanah yang sama kemungkinan tumbuh vegetasi yang sama. Hubungan antara sifat-sifat tanah meliputi:

a. Sifat fisik tanah (aspek penting di bidang kehutanan) 

b. Sifat kimia tanah

c. Sifat biologi tanah.

Anu Riikonen dalam situs  http://www.helsinki.fi/forsoil/ menyatakan bahwa ilmu tanah hutan mempelajari struktur dan fungsi tanah hutan. Karakteristik tanah hutan adalah pendorong utama produksi hutan dan jasa lingkungan lainnya. Untuk mengetahui variasi spasial dan temporal di karakteristik tanah hutan dan proses dan faktor yang mempengaruhi mereka merupakan prasyarat untuk memahami dan meramalkan efek ekosistem pengelolaan hutan dan perubahan lingkungan dan iklim. Menurut Riikonen, tanah hutan adalah dasar untuk sumber daya terbarukan hutan, tetapi tanah itu sendiri praktis tidak terbarukan, kecuali bahan organik dari atas berupa serasah tanah  secara perlahan terakumulasi dalam tanah hutan.

Sumber :

Asgar Taiyeb. 2016. Tanah Hutan. http://stafsite.untad.ac.id/asgar-taiyeb-spmp/blog/tanah-hutan.html.

Hanafiah. K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajagrafindo Persada, Jakarta. 360 h.

Ismail. 2001. Ilmu Tanah Hutan. Universitas 17 Agustus 1945. Samarinda.

Riikonen A. 2016. Forest Soil Science and Biogeochemistryhttp://www.helsinki.fi/forsoil/