Sifat Morfologi Tanah Hutan | Asgar Taiyeb, SP, MP

Sifat Morfologi Tanah Hutan

MORFOLOGI TANAH HUTAN

ASGAR TAIYEB

LABORATORIUM ILMU-ILMU KEHUTANAN FAHUTAN UNTAD

Ada tiga jenis kebutuhan tegakan, yakni unsur hara, air dan udara.  Unsur hara berkaitan dengan kesuburan tanah hutan. Pada bidang budidaya hutan atau silvikultur yang berhubungan dengan pohon yaitu: sebagai sumber unsur hara, suplai kelembapan dan sokongan secara fisik atau mekanik.

Menurut Rusdiana dan Lubis (2012), tanah memiliki karakteristik atau sifat tanah yang terdiri atas sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. karakteristik tanah inidapat dijadikan parameter kesuburan tanah dan pertumbuhan vegetasi. Semakin besar kesuburan tanah maka semakin besar pertumbuhan vegetasi sehingga diduga akan semakin besar karbon yang akan tersimpan pada tegakan maupun tumbuhan bawah atau serasah.

Karakteristik tanah seperti tekstur, status nutrisi, dan kedalaman. Sifat-sifat tanah ditinjau dari potensinya dibagi menjadi kategori morfologi, fisik dan kimia. 

Morfologi terbentuk dari suku kata bahasa latin, morphos yang artinya bentuk dan logos yang artinya ilmu. Jadi, morfologi tanah diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk tanah.

Keragaman jenis tanah mempengaruhi produksi tanaman, karena perbedaan sifat morfologi dan fisik. Morfologi bertalian dengan perkembangan dan pelapukan.

Morfologi tanah merupakan suatu sarana dalam penyelidikan ilmiah dengan tujuan untuk menguraikan, melukiskan dan melaporkan kenampakan, ciri-ciri, dan sifat tanah yang dimiliki oleh suatu profil tanah. Sifat morfologi tanah adalah suatu sifat tanah yang dapat dipelajari dan diamati di lapang yang menunjukkan profil tanah.

Sebagian sifat morfologi tanah adalah sifat fisik dari tanah tersebut. Morfologi tanah penting untuk dipelajari dan diamati karena akar tanaman kehutanan berjangkar di tempat tersebut.

Morfologi tanah berkaitan dengan bentuk dan susunan profil tanah. Profil tanah adalah penampang melintang tanah yang menampakkan lapisan-lapisan tanah (horizon). Sementara itu, horison adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan mempunyai ciri-ciri tertentu (khas). Horison tanah disebut juga lapisan tanah. Horison utama ditandai dengan huruf kapital O, A, B, C dan R.

Horison atau lapisan A adalah lapisan tanah bagian atas (tanah atasan) yang disebut juga dengan top soil. Top soil adalah lapisan tanah yang paling atas yang dapat diartikan: (1) horizon Ap; (2) horizon A1, (3) horizon A seluruhnya (4) lapisan tanah yang subur karena mengandung banyak bahan organik tanah. Horison A memiliki ketebalan rata-rata 20-35 cm. Horison ini merupakan zona eluviasi, yaitu wilayah pencucian partikel-partikel tanah oleh air hujan, terutama partikel liat yang ukurannya sangat halus dan juga debu. Warnanya agak gelap.

Pada lapisan A terdapat tanah permukaan (surface soil). Lapisan tanah permukaan adalah biasanya terpindahkan sewaktu ada tindakan pengolahan tanah atau tererosi, biasanya mempunyai tebal 12-20 cm. Dibawah lapisan tanah permukaan terdapat tanah bawah permukaan (subsurface horizon). Tanah bawah permukaan masih merupakan bagian dari horizon A.

Di bawah horison A, terdapat horison B. Horison B ini sering juga disebut dengan subsoil. Subsoil (tanah lapisan bawah) adalah horizon B bagi tanah yang sudah terbentuk horizon; artinya bahwa horison ini ditemukan pada tanah yang mengalami perkembangan, dan tidak ditemukan pada tanah yang muda. Pada tanah yang sedang berkembang terdapat horison B yang merupakan lapisan tanah di bawah tanah permukaan dimana terdapat pertumbuhan akar yang normal. Horison B merupakan zona iluviasi, yaitu tempat pengendapan partikel tanah yang mengalami pencucian dan terlarut dalam air.

Selain istilah horison, terdapat pula istilah solum tanah. Solum (tubuh tanah) adalah tanah yang berkembang secara genetis; merupakan lapisan tanah mineral dari atas sampai sedikit di bawah batas atas horizon C. Beberapa pakar tanah hutan menyatakan bahwa kedalaman solum adalah kedalaman horison A dan B yang disebut dengan kedalaman efektif.

Horison C sering juga disebut dengan zona regolik yaitu lapisan batuan dasar yang sudah mengalami proses penghancuran dan pelapukan. Warnanya agak terang.

Horison D atau R merupakan lapisan dasar dari horison tanah. Terdiri dari lapisan batuan dasar yang masih keras dan utuh karena belum mengalami proses pelapukan sama sekali. Batuanya masih keras dan padat. Horison ini tidak memiliki kesuburan karena dari segi struktur masih merupakan benda padat yang tidak mengandung bahan organik.

Baik horison C maupun horison D, disebut juga substratum atau lapisan bawah tanah yang merupakan lapisan di bawah solum.

Bahan Induk dan mungkin saja horison C pada jenis tanah tertentu tidak ditemukan kedalaman akar efektif, karena tidak subur lagi, dimana akar tidak siap masuk ke lapisan tersebut. Kedalaman efektif merupakan salah satu sifat morfologi tanah yang ditentukan melalui pengamatan profil dan penentuan horizon. Beberapa ahli menyatakan bahwa kedalaman efektif adalah kedalaman akar sampai dimana akar berkumpul atau berakumulasi paling banyak yang ditemukan pada saat penggalian profil tanah hutan. Di samping kedalaman efektif, terdapat pula istilah kedalaman akar maksimal, yakni kedalaman tanah sampai dimana ujung akar ditemukan.

Pengamatan morfologi tanah penting mengingat sifat morfologi tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Melalui pengamatan profil dapat diketahui faktor penghambat apa saja yang membatasi pertumbuhan tanaman hutan, sehingga pembuatan profil perlu dilakukan dengan persyaratan dan langkah-langkah tertentu.

Adapun syarat pembuatan profil tanah, adalah (1) tegak (vertikal), (2) baru, (3) tidak terkena sinar matahari langsung, (4) tidak tergenang air, dan (5) mewakili tapak sekeliling.

Langkah langkah atau step-step pengamatan profil tanah :

Membuat lubang profil (1m x 1m x 1m)

Menentukan batas-batas horizon, berdasarkan suara, warna dan kekerasan.

Mengukur batas-batas horizon dalam satuan cm

Batas horizon termasuk morfologi tanah yang bisa diukur, dengan beberapa kemungkinan yang bisa diamati. Berdasarkan :

(a)  jelas  tidaknya :

t/a – tegas (abrupt) : tebal batas kurang dari 2,5 cm

j/c –jelas (clear) : tebal batas 2,5-6,0 cm

a/g – berangsur (gradual) : tebal 6,0-15 cm

k/d-kabur (diffuse) : lebih dari 15 cm

(b) topografi batas :

r/s- rata (smooth)

o/w- berombak (wavy)

i- tidak teratur (irregular)

ii/b- patah (broken)

Mengamati sifat-sifat atau kenampakan tanah: (a) warna tanah, (b) tekstur tanah, (c) struktur tanah, (d) konsistensi, (e) perakaran, (f) bahan-bahan kasar dan bentukan istimewa (padas, konkresi) bisa dikatakan sebagai pengamatan terhadap sifat morfologi. Pengamatan sifat morfologi selalu diamati saat pembuatan profil tanah hutan.  Namun demikian, beberapa sifat morfologi seperti struktur tanah, konsistensi, tekstur tanah dan warna tanah juga sekaligus termasuk bagian dari sifat fisik tanah. Hanya saja, pengamatan sifat fisik tanah tidaklah melalui pengamatan profil hingga ditemukannya bahan induk, tapi cukup dengan mengamati tanah disekitar profil dengan berdasar kepada kelas kedalaman yang ditentukan, misalnya kelas 0-15 cm mewakili top soil dan 15- 30 cm mewakili sub soil. Pembicaraan mengenai sifat fisik memerlukan judul artikel tersendiri.         

Pengamatan terhadap sifat morfologi tanah hutan bisa mencakup ketebalan top soil, warna tanah, tekstur, struktur dan tingkat perkembangannya, perakaran, relief, lereng dan fisiografi tanah. Dari segi morfologi tersebut tergambar potensi tanah untuk digunakan sebagai media tumbuh tanaman kehutanan.