Nur Edy, Ph.D

Nur Edy, Ph.D

NIP : 198012142008011010

Dosen


KARTINI SI PENULIS

Posted on 30 Agustus 2016,  by Nur Edy, Ph.D

Tanggal 20 April adalah hari paling menyibukkan bagi orang dewasa di kantor swasta dan perbankan, orang tua yang punya anak kecil di TK maupun SD, dan pemilik butik penyewaan busana. Ada apa? Banyak yang mencari kebaya untuk dipakai di keesokan harinya. Hari Kartini. Kata seorang ibu pemilik butik penyewaan busana, “kalau tanggal 20 April, sampai pagi kami melayani para pemburu kebaya dan pakaian model untuk anak-anak dan karyawan kantoran”. Apa yang menarik dari si Kartini (Raden Adjeng Kartini) hingga dia perlu dikenang? Padahal ia tak sehebat Tjoet Nja’ Dhien (Cut Nyak Dien) yang memimpin peperangan di tanah rencong melawan kompeni. Ia juga tak segagah Martha Christina Tiahahu yang membantu Kapitan Pattimura bertempur melawan penjajah. Bahkan ia tidak lebih jago dari Nyi Ageng Serang yang membantu Pangeran Diponegoro bertahun-tahun berperang melawan Belanda. Kartini lahir dari ketidakmerdekaannya atas tradisi jawa (pingit). Ia memulai gerakannya dari ‘menulis’. Menulis banyak hal, mulai dari keadaan masyarakat Jawa yang jauh dari pendidikan. Menulis bagaimana para intelektual diasingkan jika mereka bisa berbahasa Belanda dan kritis. Menulis cerita kehidupan dimana hierarki dan isolationism menjadi budaya. Ia juga menulis surat ke Mrs. Ovink-Soer di Belanda untuk menyatakan keinginannya bersekolah lagi. Ia menyampaikan harapannya agar kelak ia dapat mengedukasi perempuan-perempuan pingit. Di zaman itu, Kartini telah mengerti bahwa wanita juga berhak memiliki pilihannya sendiri. Tulisan-tulisan (surat) Kartini kemudian terpublikasi setelah ia meninggal dunia dalam sebuah buku “Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javanese Volk”. Buku ini kemudian diterjemahkan kedalam banyak bahasa dunia termasuk Prancis, Arab, Rusia, dan Inggris. Di tahun 1922, Armijn Pane menterjemahkannya ke bahasa Jawa dengan arti “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Menulis, rupanya, punya power sendiri. Beberapa peradaban kemajuan negara ditengarai berawal dari tulisan. Lihatlah orde baru yang tumbang dari ajakan unjuk rasa mahasiswa dan penggerak reformasi yang bergulir melalui SMS (short message service) dan selebaran-selebaran ‘pencerahan’. Itu kekuatan tulisan. Ada banyak sejarah peradaban di dunia ini di bangun dari tulisan. Kembali ke si Kartini, bisa jadi, dia hanya diuntungkan media dengan tereksposnya tulisan-tulisan tersebut ke publik. Kalaupun iya, Kartini tetap punya porsi sendiri untuk dikenang. Ia memang bukan pasukan perang tetapi ia mendobrak peradaban dengan menulis. [©nedy-21.4.16].

< back to front

KARTINI SI PENULIS | Nur Edy, Ph.D