Bagaimana Membentuk Karakter Anak Jika Gurunya Begitu |

Bagaimana Membentuk Karakter Anak Jika Gurunya Begitu

Guru taman kanak-kanak (TK) di Jerman tidak seperti di Indonesia, mereka tidak harus berpakaian rapi. Mereka bahkan terkesan berpenampilan urakan bagi orang-orang Indonesia. Ada yang pake anting di hidung dan bibir, rambut gimbal, bertato, bahkan punk. Tapi saya salut! Saya salut dgn cara guru-guru TK di sini membentuk karakter anak-anak. Terutama tentang “kemandirian”. Satu hal yang mudah dianjurkan tetapi sulit dipraktekkan. Anak-anak saya, Nicky (6 thn) dan Lyo (4 thn) selalu menolak makan disuapi, mereka malu dipakaikan sepatu (meskipun Lyo masih sering pakai sepatu terbalik), dan mereka selalu bilang “Ich weiß schon” (saya tau/saya bisa sendiri). Hal lainnya, anak-anak selalu bertanya ke orang tuanya untuk minta izin sebelum melakukan sesuatu yang memerlukan persetujuan. “Ayah, apakah ini jam nonton anak-anak?” “Ayah, apakah film ini boleh saya nonton?” “Ibu, boleh makan ice cream?” “Ibu, boleh makan coklat?” Saya senang karena anak-anak malu jika mereka harus dibantu orang tuanya untuk hal-hal yang mereka bisa kerjakan sendiri. Mereka juga tidak semaunya menyalakan TV untuk menonton, atau langsung memakan makanan yang ditawarkan orang lain. Ini bukan bentukan kami, ini didikan sekolah TK. Saya salut! Awalnya saya penasaran, bagaimana mereka mendidik anak-anak semandiri itu? Setelah saya perhatikan, rupanya si guru mengajari anak-anak dengan cara menjadi teman bermainnya. Sambil bermain si guru mempraktekkan bagaimana berperilaku mandiri dan selalu meminta persetujuan murid ketika dibutuhkan. Misalnya menanyakan, “bolehkah gambarnya disimpan di folder?”, “mau ngga hiking dan picnic besok?”. Hal-hal sederhana, tapi dipraktekkan, dan anak-anak juga menemukan kebiasaan-kebiasaan itu di luar sekolah. Cara si guru mengajak dan menghargai si anak sangat berbeda dengan cara mendidik yang bersifat instruksional dan menjadikan murid sebagai sub-ordinat guru. Coba bedakan dua kalimat berikut. Pertama, “anak-anak mau ngga hiking dan picnic besok? Kedua, “anak-anak besok kita akan hiking dan picnic ya”. Kalimat pertama lebih menghargai anak-anak. Guru memintai pendapat anak-anak dan memancing antusisasme mereka, padahal tanpa memintai pendapat mereka, kegiatan hiking dan piknik tersebut telah teragendakan oleh sekolah. Cara tersebut implikasinya besar bagi pembentukan karakter anak untuk berperilaku serupa. Sangat berbeda dengan kalimat kedua yang tidak mengajak anak berpendapat, isinya bukan bersifat ajakan, tapi perintah. Saya kerap melihat orang tua (termasuk saya dan mungkin juga guru TK) di Indonesia yang menyepelekan hal kecil tapi sangat berarti seperti contoh di atas. Saya sering melihat gambar anak-anak di kertas yang hanya berupa coretan tak berarti, di buang begitu saja oleh orang tuanya. Mungkin mereka berpikir, “gambar apa sih ini?”. Padahal dari hal-hal sekecil itu, kita bisa belajar menghargai anak. Saya memperhatikan perilaku itu di sini. Ketika Si Lyo berumur hampir 3 tahun di awal fase TKnya, gambar dan lukisan Lyo yang hanya berupa coretan-coretan semrawut tetap disimpan oleh gurunya dalam sebuah folder. Suatu hari si guru ingin menunjukkan gambar-gambar tersebut ke kami. Sebelumnya si guru menanyakan ke Lyo, apakah si guru dan kami (orang tuanya) boleh melihat isi foldernya. Jika Lyo mengizinkan, baru kami boleh melihatnya. Begitu si guru mempraktekkan cara menghargai privasi anak-anak. Si Guru lalu menunjukkan kemajuan-kemajuan Lyo dari gambarnya. Dari yang hanya berupa coretan, lalu mulai berbentuk menjadi mobil, rumah, sepeda, dan super hero favoritnya. Pada banyak hal, cara pandang terhadap sesuatu akan berbeda-beda. Itu dipengaruhi oleh pola pikir dan fakta-fakta di sekeliling objek yang diamati. Kekawatiran saya pada sifat anak kecil lekat dengan kebiasaan meniru, dikaitkan dengan penampilan gurunya yang “begitu” telah pupus. Guru-guru Lyo dan Nicky selalu menempatkan diri sebagai teman bermain anak-anak sekaligus mengajarkan “nilai-nilai kebaikan universal”. Si guru mengajarkan kebaikan-kebaikan ke murid dan melarang berperilaku tidak baik. Mereka tidak mereferensikan agama, atau pilihan “genre hidup” (gaya berbusana, punk, bertato, beranting, dll.), itu wilayah privasi yang harus dihargai. Anak-anak juga selalu diberi pemahaman, bahwa mereka harus berperilaku sesuai umur. Misalnya gaya dan genre hidup seperti itu adalah gaya orang dewasa dan tidak boleh ditiru oleh anak-anak. Tentu saja akan sulit memahami semua itu jika cara berpikir seperti kebanyakan orang-orang di negeri kita yang dipakai untuk memahami penampilan si guru karena dia seorang pengajar sekaligus pendidik. Tapi rupanya tidak begitu pemahaman yang ada di sini. Satu hal yang harus dimengerti, Jerman adalah negera sejahtera, berbeda dengan negara kita. Pola pikir mereka tidak lagi pada hal-hal yang tidak substansial. Mereka kebanyakan berpenampilan seadanya, handphone dan busananya banyak yang tidak bermerk mahal karena mereka lebih memilih fungsi dan substansi. Itu salah satu ciri masyarakat di negara-negara sejahtera . Pada konteks tersebut, penampilan beranting, punk, dan bertato tidak lagi menjadi masalah, sepanjang kompetensinya sebagai guru memenuhi syarat. Rupanya penampilan guru yang “begitu” tidak akan ditiru oleh si anak TK karena mereka membentuk kemandirian dan pola pikir si anak, bukan mengajarkan gaya hidup. Mereka menanamkan kemandirian hingga pada suatu hari nanti si anak memilih akan jadi apa atas kemandiriannya berpikir. Ini nilai. Ini budaya. Kita tidak perlu ikut semua budaya barat, tapi yang baik wajib diambil, yang kurang cocok jangan dipakai.